Postingan

Serangan Syawal

Gambar
Angin pembuka kalender Qomariah telah di ambang pintu Fajar yang telah kembali ke peraduannya Suara kemenangan telah bergema Namun kabarmu tak jua tersua. Takbir telah berkumandang semalam suntuk Hingga fajar menghampiri Mata ini tak dapat terpejam Menanti secuil kabar dari dirimu, pangeranku. Dimana berakibat aku yang terakhir melangkahkan kaki ke masjid Aku sudah rapi, wangi dan siap melangkah Kakiku tertahan di depan layar laptop, handphone dan telepon rumah Menantikan suara dalam gadget itu. Bahkan aku mempercepat langkah untuk pulang Tak menanti ayah dan bunda Mengabaikan orang yang mengulurkan tangan padaku Aku tidak ingin kau kecewa jika tahu aku tak ada. Aku masih terus melirik ke arah laptop Bahkan saat aku sarapan pagi di meja makan Aku pun tidak berkonsentrasi Saat bersimpuh meminta maaf pada ayah dan bunda Aku menantikanmu! Jam dinding tak hentinya bergerak Bahkan fajar telah berganti dengan senja Hari telah berga...

Terlambat

Gambar
Entah apa rasanya ini semua Berjalan begitu saja Tanpa kompromi dan persetujuan Melaju dengan kendali hati Aku tahu ini salah dan menyakitkan Tapi aku sendiri tidak bisa menyembunyikannya Maafkan aku jika tidak bisa mengontrolnya Mengontrol hatiku yang tak terkendali Salahkan aku memiliki rasa ini Salahkan aku harus memendam rasa ini Salahkah aku menjadi pecundang yang hanya bisa diam Salahkah aku jika ingin menjadi bayanganmu Cukup bayangan bagimu Dimana aku tidak mungkin sejajar denganmu Bukannya aku tak mampu Hanya aku merasa tak pantas berada disana Hanya melihatmu saja Sudah membuat bibirku tertarik Menyungging senyum Hatiku pun turut membuncah, bahagia. Sadarkah keberadaanmu terkadang ku rindukan Ya, aku merindukanku Sangatlah konyol Memang sangat menggelikan Aku saja terkadang malu jika mengingatnya Betapa aneh jika bersua denganmu Selalu saja harus ada perdebatan dan adu argument Tapi, diam diam aku merinduk...

miss you, grandma

Gambar
Assalamualaikum, Nenek apa kabarmu disana? Aku, ayah, ibu, pepi dan bela selalu baik baik saja Aku tahu itu yang selalu yang kau minta padaNya Supaya kami dalam perlindunganNya Nenek tahu, Hari ini tanggal 18 ramadhan Dimana kau pergi dengan senyummu Tanpa menunggu kedatanganku dan ayah Untuk mengantar kepergianmu Maaf kan kami kala itu. Nenek tahu, Hari ini hari jum’at manis (legi) Kata ibu, ini weton (penanda kelahiran dalam kalender jawa) nya anis Anis baru tahu tadi, saat lihat kalender Anis tidak punya kalender di kos, maaf ya Nenek tahu, Kau masih hutang satu janji denganku Masih ingat aku selalu ngambek saat ingin menonton televise Karena tidak ada televise di rumahmu Tapi kau akan membelikanku televise sebesar pintu Agar aku puas melihatnya sendiri dan tertidur dengan pulas Nenek tahu, Anis rindu roti pisang itu Mak Iyah udah meninggal Tak lama setelah kau pergi. Nenek tahu, Seseorang yang dulunya ada di perutn...

Cerita lain tentang hujan

Gambar
Lagi lagi rintik itu menyapaku Memberikan sensasi tak terlupakan di ujung kepalaku Memberiku mengerti bahwa Tuhan tahu Isi di kepalaku ini telah pelepuh Panas oleh pemikiran yang tak berhenti menyiksaku Berasap karena terlalu banyak di gunakan dari pada di istirahatkan Mengeluh dengan asupan yang seimbang ku suplay Sekarang terasa ingin dan membuatku menarik senyum Kali ini aku mencoba hidup dengan kedua kakiku Secara konotasi pastinya Aku ingin hidup mandiri Tanpa bayang-bayang kedua orang tua yang sangat menyayangiku Terbiasa dengan ritme deadline dan pekerjaan Terbiasa untuk mengatur sendiri semua yang aku lakukan Terbiasa untuk bertanggung jawab pada diri Terbiasa untuk menjaga nama baik dan kepercayaan dari orang tua Sekarang kau seakan memberi tahuku Lewat hujan, bahwa aku bisa dan pasti bisa Mendinginkan kepalaku yang setiap saat bisa meletus Menyejukan hatiku yang gersang akibat ulah sang adam Hujan, Tahukah kau aku se...